Dukung Ketahanan Pangan, Pemkab Bulukumba Salurkan 2 Paket Bantuan Tematik Bioflok Komoditas Nila dan Lele

BULUKUMBA – Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Perikanan memastikan komitmennya dalam memperkuat sektor perikanan budidaya dan ketahanan pangan lokal. Pada tahun 2026 ini, Kabupaten Bulukumba sukses mendapat alokasi Bantuan Tematik Budidaya Ikan Sistem Bioflok sebanyak 2 paket dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia.
Bantuan stimulan ini disalurkan langsung kepada dua kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) pilihan di wilayah strategis, yaitu Kelompok Busettung di Desa Bijawang, Kecamatan Ujung Loe, dan Kelompok Arroyyang di Kecamatan Bontotiro.
Masing-masing kelompok menerima paket budidaya modern yang terdiri dari 6 unit kolam bioflok, lengkap dengan sarana operasionalnya. Secara rinci, satu paket dialokasikan untuk komoditas Ikan Nila dengan padat tebar 4.200 ekor, dan satu paket lainnya untuk komoditas Ikan Lele dengan padat tebar mencapai 15.000 ekor. Seluruh bantuan juga sudah mencakup pakan berkualitas (fase starter, grower, hingga finisher), obat-obatan, vitamin, mesin aerasi (Hiblow), pompa air, hingga sarana pendukung kelistrikan berupa genset berkapasitas 1000 watt.
Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Penerapan sistem bioflok ini diproyeksikan membawa lompatan teknologi bagi pembudidaya lokal. Berbeda dengan kolam konvensional, sistem bioflok menawarkan efisiensi penggunaan lahan dan hemat air, serta mampu mengubah kotoran ikan menjadi flok bakteri yang bernilai protein tinggi sebagai pakan alami.
Bagi masyarakat sekitar, kehadiran program ini bermanfaat langsung dalam membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan ekonomi anggota kelompok melalui hasil panen yang lebih melimpah, serta menjamin ketersediaan sumber protein hewani yang segar, sehat, dan terjangkau di tingkat desa.
Target Produksi dan Keberlanjutan
Program tematik 2026 ini membawa target yang jelas. Dengan pasokan pakan total mencapai 940 kg untuk nila dan 1.420 kg untuk lele, target utamanya adalah mencetak angka kelulusan hidup ikan (Survival Rate) yang tinggi hingga mencapai masa panen optimal. Lebih jauh lagi, Kementerian Perikanan dan Pemkab Bulukumba menargetkan kedua Pokdakan ini dapat bertransformasi menjadi kelompok mandiri yang mampu berproduksi secara berkelanjutan, bahkan menjadi percontohan (pilot project) teknologi bioflok bagi desa-desa lain di Bulukumba.
Sinergi Peran Pemda dan Penyuluh Perikanan
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kawalan ketat di tingkat daerah. Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bulukumba, melalui Bidang Budidaya Dinas Perikanan, memegang peran penting dalam fungsi fasilitasi, pengawasan (monitoring), serta evaluasi berkala untuk memastikan seluruh aset operasional dimanfaatkan secara benar dan akuntabel.
Sementara itu, Penyuluh Perikanan bertindak sebagai ujung tombak sekaligus mentor teknis di lapangan. Para penyuluh mendampingi kelompok secara intensif dari hari ke hari; mulai dari teknik manajemen kualitas air, aplikasi probiotik dan molase untuk pembentukan flok, pengaturan aerasi, hingga formulasi pemberian pakan yang efisien agar tidak terjadi pemborosan.
Dengan sinergi yang kuat antara stimulus Pemerintah Pusat, pengawasan Pemda, bimbingan teknis Penyuluh, dan komitmen tinggi dari kelompok penerima, program bioflok di Ujung Loe dan Bontotiro ini optimis dapat memajukan sektor akuakultur Kabupaten Bulukumba menuju arah yang lebih modern dan mandiri.

Comments

Popular posts from this blog

Ekspor Ikan Perdana ke Arab Saudi Resmi Diluncurkan dari KNMP Bentenge

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Nelayan Resmi Dimulai, Penguatan SDM untuk Mendukung Kampung Nelayan Merah Putih Bentenge

Budidaya Nila Intensif Percontohan Jadi Wadah Edukasi Masyarakat di Pusat Aktivitas Bulukumba