Buaya Muncul di Kolam Labuh Bentenge, Fenomena Alami atau Dampak Perubahan Ekosistem?
BULUKUMBA — Kemunculan seekor buaya di kawasan Kolam Labuh Bentenge, Bulukumba, pada Minggu sore (13/9/2026), menarik perhatian warga. Satwa yang diduga kuat merupakan buaya muara (Crocodylus porosus) tersebut terlihat berenang di dalam kawasan kolam labuh dan terekam dalam video warga.
Menurut Yusli Sandi, Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Bulukumba sekaligus pemerhati kelautan, kemunculan buaya di kawasan tersebut sebenarnya masih dapat dijelaskan secara ekologis dan belum tentu menunjukkan adanya gangguan serius terhadap habitat alami buaya.
“Kalau melihat lokasinya, Kolam Labuh Bentenge relatif dekat dengan Muara Sungai Bialo, sekitar satu kilometer. Buaya muara memang mempunyai kemampuan beradaptasi pada perairan payau bahkan laut, sehingga kemunculannya di kawasan pesisir bukan sesuatu yang luar biasa,” jelas Yusli Sandi.
Dekat dengan Muara Sungai Bialo
Yusli menjelaskan, posisi Kolam Labuh yang relatif dekat dengan sistem Sungai Bialo menjadi faktor penting dalam memahami kemunculan buaya tersebut.
Menurutnya, buaya muara memiliki wilayah jelajah yang tidak terbatas pada satu tipe perairan. Satwa ini dapat bergerak dari sungai menuju muara, perairan payau, kemudian memasuki kawasan pesisir dan laut.
“Jarak sekitar satu kilometer dari muara bukan jarak yang sulit bagi buaya muara. Jadi sangat mungkin individu tersebut datang dari sistem Sungai Bialo atau kawasan muaranya dan kemudian masuk ke Kolam Labuh,” kata Yusli.
Ia menambahkan, kemunculan di laut juga tidak serta-merta berarti buaya telah meninggalkan habitat utamanya.
“Laut bagi buaya muara bisa menjadi bagian dari wilayah jelajah. Tetapi kemunculan sesekali di laut atau kolam labuh tidak berarti kawasan tersebut menjadi habitat permanennya,” ujarnya.
Kemarau Panjang Bisa Menjadi Salah Satu Faktor
Menurut Yusli Sandi, kondisi lingkungan saat ini juga perlu diperhatikan karena Bulukumba sedang mengalami periode kemarau yang relatif panjang.
Penurunan debit air tawar Sungai Bialo dapat menyebabkan perubahan kondisi hidrologis di kawasan muara. Ketika debit sungai menurun, pengaruh air laut terhadap kawasan muara dapat menjadi lebih besar sehingga terjadi perubahan salinitas dan karakteristik perairan.
“Yang menarik bukan karena buayanya tidak tahan air asin. Buaya muara justru mempunyai adaptasi terhadap salinitas tinggi. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan ekosistem akibat berkurangnya debit air tawar,” jelas Yusli.
Menurutnya, perubahan tersebut dapat memengaruhi distribusi ikan, udang, kepiting dan organisme lain yang menjadi bagian dari rantai makanan.
“Jadi kemungkinan mekanismenya bukan sederhana seperti kemarau membuat buaya keluar dari sungai. Bisa saja kemarau mengubah kondisi muara, kemudian distribusi mangsanya berubah, dan buaya mengikuti sumber makanan atau memperluas wilayah jelajahnya,” ungkapnya.
Breakwater Bisa Membentuk Habitat Baru
Selain faktor kemarau, Yusli menilai ada kemungkinan lain yang justru menarik dari sisi ekologi, yaitu keberadaan breakwater Kolam Labuh yang tersusun dari batu gajah.
Menurutnya, struktur batu yang baru terbentuk tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelindung kolam labuh. Setelah terendam dalam waktu tertentu, batu-batu tersebut dapat menjadi substrat bagi organisme laut dan menyediakan celah perlindungan bagi berbagai biota.
“Kalau pengamatan masyarakat menunjukkan sudah mulai banyak ikan dasar, udang, kepiting bahkan lobster di sekitar celah batu, maka kita sebenarnya sedang melihat proses pembentukan habitat buatan,” kata Yusli.
Ia menjelaskan, batu-batu besar tersebut menyediakan permukaan keras dan celah yang dapat digunakan organisme sebagai tempat berlindung. Kehadiran organisme kecil kemudian dapat menarik ikan yang lebih besar dan predator lainnya.
“Secara ekologis bisa terbentuk rantai sederhana: batu menjadi substrat, kemudian ditumbuhi organisme, menjadi tempat berlindung ikan dan krustasea, lalu menarik predator,” jelasnya.
Apakah Kolam Labuh Menjadi "Feeding Ground" Baru?
Yusli menilai, kemungkinan terbentuknya kawasan mencari makan baru bagi predator seperti buaya merupakan hipotesis yang menarik untuk dikaji.
Jika ikan dasar, kepiting, udang dan lobster semakin banyak menggunakan struktur breakwater sebagai tempat berlindung, maka kawasan tersebut berpotensi memiliki konsentrasi makanan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
“Bukan tidak mungkin buaya tersebut masuk karena menemukan kawasan yang menyediakan makanan. Kalau di sekitar breakwater mulai terbentuk komunitas ikan dan biota dasar, maka secara ekologis kawasan itu bisa menjadi feeding ground sementara,” ujar Yusli.
Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut masih merupakan dugaan yang perlu dibuktikan melalui pengamatan lebih lanjut.
“Kita jangan langsung menyimpulkan bahwa buaya datang karena ada banyak ikan. Itu masih hipotesis. Tetapi secara ekologis mekanismenya masuk akal dan bisa diuji dengan pengamatan terhadap kelimpahan ikan dan biota dasar di sekitar breakwater,” katanya.
Tidak Otomatis Menandakan Habitat Mangrove Rusak
Menurut Yusli, masyarakat juga tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa kemunculan buaya merupakan tanda kerusakan habitat Sungai Bialo atau kawasan mangrove.
“Kalau buaya muncul satu atau dua kali dalam periode yang panjang, saya belum melihat cukup dasar untuk mengatakan bahwa habitat mangrove sudah rusak dan buaya terpaksa keluar,” jelasnya.
Menurutnya, indikator kerusakan habitat akan lebih kuat apabila terjadi perubahan pola kemunculan yang konsisten.
“Kalau sebelumnya tidak pernah terlihat, kemudian menjadi satu kali setahun, lalu beberapa kali dalam setahun, setiap bulan, bahkan menetap, barulah kita perlu melihat lebih serius apakah ada perubahan habitat, ketersediaan makanan atau gangguan terhadap kawasan muara,” ujar Yusli.
Kemunculan Hanya Sesekali Menjadi Petunjuk
Yusli mengatakan, informasi bahwa buaya di kawasan tersebut hanya terlihat sesekali, bahkan sekitar satu kali dalam setahun, menjadi salah satu petunjuk penting.
“Kalau Kolam Labuh sudah menjadi habitat utama, kita mungkin akan melihat frekuensi kemunculan yang lebih tinggi. Kalau hanya sesekali, kemungkinan kawasan ini lebih berfungsi sebagai wilayah jelajah atau lokasi mencari makan sementara,” jelasnya.
Dengan demikian, menurut Yusli, buaya tersebut kemungkinan masih memiliki habitat utama di kawasan sungai, muara atau pesisir lainnya dan hanya melakukan pergerakan ke Kolam Labuh pada kondisi tertentu.
Tiga Kemungkinan yang Perlu Dikaji
Yusli Sandi menyebut setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.
Pertama, pergerakan alami buaya muara dari Sungai Bialo menuju kawasan pesisir.
Kedua, perubahan kondisi hidrologis akibat kemarau, terutama penurunan debit air tawar yang dapat mengubah salinitas dan distribusi organisme di kawasan muara.
Ketiga, terbentuknya habitat baru pada breakwater Kolam Labuh yang mulai menarik ikan, krustasea dan organisme dasar sehingga berpotensi menjadi lokasi mencari makan baru bagi predator.
“Ketiga faktor ini bahkan bisa saja terjadi secara bersamaan. Karena itu kita tidak boleh hanya melihat buayanya, tetapi harus melihat perubahan ekosistem secara keseluruhan,” kata Yusli.
Perlu Pemantauan Ekosistem
Sebagai Kabid Perikanan Tangkap sekaligus pemerhati kelautan, Yusli menyarankan agar fenomena tersebut dijadikan momentum untuk melakukan pemantauan sederhana terhadap kondisi perairan Kolam Labuh dan Muara Sungai Bialo.
Menurutnya, beberapa parameter yang dapat dicatat adalah debit Sungai Bialo, salinitas, pasang-surut, curah hujan, kekeruhan, suhu air, keberadaan ikan dan biota dasar, serta frekuensi kemunculan buaya.
“Kalau setiap kali buaya muncul kita punya catatan kondisi pasang, salinitas, debit sungai, cuaca dan keberadaan ikan, dalam beberapa kejadian kita bisa melihat apakah ada pola tertentu,” jelas Yusli.
Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak mendekati atau mencoba menangkap buaya apabila kembali terlihat.
“Yang paling penting adalah keselamatan masyarakat. Buaya tetap merupakan satwa liar yang berpotensi membahayakan. Kalau muncul kembali, cukup dokumentasikan dari jarak aman dan laporkan kepada pihak terkait,” ujarnya.
Bukan Sekadar Buaya Masuk Laut
Yusli menilai, fenomena ini sebenarnya memberikan peluang untuk melihat perubahan ekologis yang sedang berlangsung di kawasan Kolam Labuh.
“Pertanyaan menariknya bukan hanya mengapa buaya masuk ke Kolam Labuh, tetapi apa yang membuat kawasan tersebut sekarang menarik bagi buaya,” katanya.
Menurutnya, pembangunan breakwater secara tidak langsung dapat menghasilkan perubahan pada ekosistem perairan.
“Batu gajah yang awalnya merupakan infrastruktur perlindungan pantai, setelah beberapa waktu bisa menjadi habitat bagi organisme laut. Kalau ikan dan biota dasar kemudian berkumpul, predator seperti buaya bisa saja memanfaatkan kawasan tersebut secara oportunistik,” jelas Yusli.
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut belum dapat dijadikan bukti adanya kerusakan habitat alami.
“Untuk sementara saya lebih melihat ini sebagai fenomena pergerakan alami buaya muara yang mungkin dipengaruhi kondisi kemarau dan perubahan habitat di sekitar Kolam Labuh. Tetapi tentu kita perlu terus memantaunya,” pungkas Yusli Sandi.
Dengan demikian, kemunculan buaya di Kolam Labuh Bentenge dapat menjadi indikator menarik tentang dinamika hubungan antara sungai, muara, laut dan habitat buatan. Pengamatan yang dilakukan secara konsisten akan membantu menentukan apakah fenomena tersebut hanya merupakan pergerakan musiman dan oportunistik, atau merupakan tanda adanya perubahan ekologis yang lebih besar di kawasan pesisir Bulukumba.

Comments
Post a Comment