Super El Niño Mulai Dirasakan Nelayan Bulukumba, Hasil Tangkapan Ikan Anjlok di Musim Timur

BULUKUMBA — Musim timur yang selama ini menjadi salah satu periode penting bagi nelayan Bulukumba justru menghadirkan kondisi berbeda pada tahun 2026. Di saat nelayan biasanya mulai menikmati melimpahnya ikan pelagis seperti tongkol dan tembang di perairan selatan Bulukumba hingga Bantaeng, tahun ini ikan justru semakin sulit ditemukan.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh nelayan purse seine yang beroperasi di perairan Bulukumba. Salah satunya adalah Juned, pemilik kapal Buana Rezky, yang mengungkapkan bahwa hasil tangkapan tahun ini jauh menurun dibandingkan kondisi normal pada musim timur.

“Biasanya kalau musim timur seperti sekarang, sekitar 40 mil dari pantai selatan Bulukumba sampai Bantaeng itu banyak ikan loka-loka atau tongkol. Tahun lalu di bulan yang sama kami masih sering mendapatkan ikan. Tapi sekarang sangat sulit,” ungkap Juned.

Secara klimatologis, periode musim kemarau yang berkaitan dengan dominasi angin timur di Indonesia umumnya berlangsung sekitar April hingga Oktober, dengan pengaruh monsun tenggara semakin kuat pada periode pertengahan tahun. September sudah memasuki fase akhir musim timur/kemarau di banyak wilayah Indonesia. 

Namun, kondisi tahun ini terasa berbeda. Nelayan mengamati bahwa perairan yang selama ini menjadi fishing ground utama di bagian selatan Bulukumba tampak lebih keruh, sementara arus terasa lebih kuat. Akibatnya, ikan yang biasanya mudah ditemukan justru semakin jarang terlihat.

Bukan Sekadar Ikan Berpindah, Kondisi Laut Sedang Berubah

Fenomena tersebut menarik jika dilihat dari perspektif oseanografi.

Saat terjadi El Niño yang sangat kuat, perubahan sistem atmosfer-laut di kawasan Pasifik dapat merambat pengaruhnya ke wilayah Indonesia. Kondisi ENSO diketahui dapat memengaruhi suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus, konsentrasi klorofil-a, serta produktivitas primer laut. Studi terbaru mengenai Makassar Strait dan Banda Sea bahkan menemukan hubungan kuat antara ENSO dengan perubahan kecepatan arus dan konsentrasi klorofil-a. Pada fase El Niño–IOD positif, konsentrasi klorofil-a di beberapa wilayah dapat menurun. 

Mengapa plankton penting?

Rantai sederhananya dapat digambarkan sebagai:

El Niño → perubahan angin dan arus → perubahan suhu/salinitas dan pencampuran massa air → perubahan nutrien → perubahan fitoplankton → perubahan zooplankton → perubahan distribusi ikan kecil → ikan predator ikut berpindah.

Fitoplankton merupakan dasar rantai makanan di laut. Ketika kondisi oseanografi berubah, produktivitas fitoplankton juga dapat berubah. Perubahan tersebut kemudian berpengaruh ke zooplankton dan organisme kecil lainnya yang menjadi makanan ikan-ikan pelagis.

Penelitian mengenai ENSO di perairan Indonesia menunjukkan bahwa fenomena El Niño dan La Niña memang berkaitan dengan perubahan kondisi oseanografi dan produktivitas perairan serta dapat memengaruhi CPUE ikan pelagis. Bahkan penelitian di Sulawesi Utara menunjukkan bahwa beberapa ikan pelagis kecil memiliki CPUE lebih tinggi pada periode La Niña dibandingkan El Niño. (Ejournal Balitbang KKP)

Penelitian lain di kawasan laut Indonesia juga menunjukkan bahwa perubahan sirkulasi musiman berhubungan erat dengan perubahan lokasi fishing ground ikan pelagis kecil. Perubahan arus dapat menggeser batas massa air, suhu, salinitas, dan produktivitas sehingga lokasi berkumpulnya ikan juga ikut bergeser. (ScienceDirect)

Artinya, ikan belum tentu hilang dari wilayah perairan Bulukumba. Bisa jadi ikan berpindah mengikuti massa air, suhu yang sesuai, ketersediaan makanan, atau kondisi arus yang lebih menguntungkan.

Hal ini juga menjelaskan pengamatan nelayan bahwa ketika arus menjadi lebih kuat dan kondisi air berubah, ikan menjadi lebih sulit ditemukan. Bagi kapal purse seine, perubahan posisi gerombolan ikan beberapa mil saja dapat membuat perbedaan besar terhadap hasil tangkapan.

Fishing Ground Selatan Bulukumba Tahun Ini Tidak Lagi Seperti Biasanya

Perairan selatan Bulukumba selama musim timur dikenal sebagai salah satu daerah operasi penting nelayan. Ikan yang dominan ditangkap antara lain tongkol atau loka-loka serta tembang, yang merupakan ikan pelagis dan sangat dipengaruhi oleh dinamika lingkungan laut.

Namun tahun ini nelayan justru menghadapi kondisi yang tidak biasa.

Menurut Juned, kondisi tersebut memaksa sebagian nelayan mencari alternatif fishing ground yang lebih jauh. Kapal-kapal bahkan kembali melaut ke arah Teluk Bone, perairan Sulawesi Tenggara hingga bagian timur Selayar, meskipun kondisi gelombang di kawasan tersebut relatif lebih keras.

Ironisnya, berpindah lebih jauh belum tentu menghasilkan tangkapan yang lebih baik.

“Kalau sekarang paling sekitar 10 gabus, sekitar 60 kilogram dalam satu gabus,” kata Juned.

Karakteristik kedua kawasan tersebut juga sangat berbeda. Perairan timur dan kawasan laut yang menjadi daerah operasi baru memiliki kedalaman yang jauh lebih besar, bahkan dapat mencapai lebih dari 1.000 meter, sedangkan wilayah pantai selatan Bulukumba yang menjadi fishing ground tradisional relatif lebih dangkal, sekitar 300 meter.

Jenis ikan yang diperoleh pun berbeda.

Di kawasan timur, kapal purse seine lebih banyak memperoleh cakalang dan layang, sedangkan di wilayah selatan Bulukumba, target yang selama ini lebih dominan adalah tongkol dan tembang.

Dari Target 500 Gabus, Baru Sekitar 200 Gabus

Dampak perubahan kondisi laut tersebut terlihat semakin jelas dari catatan pengalaman nelayan.

Juned mengatakan, dalam kondisi normal, selama satu musim timur hasil tangkapan kapalnya dapat mencapai sekitar 500 gabus. Namun hingga musim timur 2026 mulai mendekati akhir, hasil yang diperoleh baru sekitar 200 gabus.

Dengan demikian, secara pengalaman nelayan, hasil tangkapan yang diperoleh baru sekitar 40 persen dari capaian yang biasanya dapat diraih dalam satu musim.

Kondisi serupa juga mulai dirasakan kapal-kapal nelayan dari daerah lain yang selama ini menjadikan Kolam Labuh Bentenge sebagai tempat berlabuh.

Pada malam 4 September 2026, kapal purse seine nelayan Galesong yang selama ini berlabuh di Kolam Labuh Bentenge dilaporkan hanya mendapatkan sekitar 2 gabus. Nelayan dari Bantaeng bahkan dilaporkan hanya mendapatkan 1 gabus.

Cerita tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak hanya dirasakan oleh satu kapal atau satu kelompok nelayan. Ada indikasi bahwa perubahan kondisi perairan sedang memengaruhi wilayah fishing ground yang lebih luas.

Nelayan Merasakan Dampaknya, tetapi Tidak Mengetahui Penyebabnya

Menariknya, sebagian besar nelayan tidak mengenal istilah El Niño, anomali suhu laut, klorofil-a, atau dinamika massa air.

Mereka hanya mengenal tanda-tanda alam melalui pengalaman puluhan tahun melaut.

Air terlihat berbeda.

Arus terasa lebih kuat.

Ikan yang biasanya muncul tidak ditemukan.

Fishing ground yang tahun sebelumnya produktif kini kosong.

Akibatnya, nelayan harus memperpanjang jarak operasi dan mengambil risiko lebih besar untuk mendapatkan ikan.

Dalam konteks inilah fenomena perubahan iklim menjadi persoalan nyata bagi masyarakat pesisir. Bagi ilmuwan, El Niño adalah fenomena interaksi atmosfer dan laut. Tetapi bagi nelayan, dampaknya diterjemahkan secara sederhana: “ikan susah didapat.”

Kondisi ENSO tahun 2026 memang menjadi perhatian internasional. NOAA pada akhir Agustus menyatakan El Niño sedang menguat dan memperkirakan peluang terjadinya episode yang sangat kuat pada akhir 2026 cukup besar. WMO juga pada awal September menyebut kejadian yang sedang berkembang ini berpotensi menjadi salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat. (Climate Prediction Center)

Meski demikian, tidak tepat jika seluruh penurunan hasil tangkapan di Bulukumba langsung dinyatakan semata-mata akibat El Niño. Hasil tangkapan juga dipengaruhi oleh jumlah kapal, lokasi operasi, fase bulan, kondisi gelombang, keberadaan ikan, tekanan penangkapan, suhu dan salinitas lokal, produktivitas plankton, serta interaksi dengan fenomena iklim lain seperti IOD.

Karena itu, fenomena yang dirasakan nelayan saat ini justru menjadi alasan penting untuk memperkuat monitoring oseanografi dan perikanan berbasis data.


Apa yang Bisa Dilakukan Pemerintah?

Kondisi seperti ini tidak mungkin diatasi hanya dengan menambah jumlah kapal atau memperluas daerah penangkapan. Jika perubahan lingkungan menyebabkan ikan berpindah, nelayan membutuhkan informasi, bukan sekadar keberanian untuk melaut lebih jauh.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah antara lain:

Pertama, membangun sistem informasi fishing ground berbasis oseanografi.

Data satelit seperti SST (suhu permukaan laut), klorofil-a, arus, tinggi gelombang dan salinitas dapat dipadukan dengan informasi hasil tangkapan nelayan. Dengan demikian, nelayan tidak perlu mencari ikan secara membabi buta.

Kedua, membangun sistem peringatan dini perikanan.

Jika terjadi anomali iklim seperti El Niño kuat, pemerintah dapat memberikan informasi kepada nelayan mengenai kemungkinan perubahan fishing ground, kondisi gelombang dan potensi perubahan distribusi ikan.

Ketiga, memperkuat pencatatan CPUE.

Catatan seperti yang dimiliki Juned—jumlah gabus per trip, berat ikan, lokasi penangkapan, jumlah hari melaut, jenis alat tangkap dan jenis ikan—merupakan data yang sangat berharga.

Jika data tersebut dikumpulkan dari puluhan kapal selama beberapa tahun, pemerintah dapat mengetahui apakah penurunan tahun 2026 memang merupakan anomali besar atau bagian dari siklus alami.

Keempat, mengembangkan diversifikasi fishing ground dan komoditas.

Ketika tongkol dan tembang berkurang di selatan, informasi mengenai potensi cakalang, layang atau spesies lain di wilayah berbeda dapat membantu nelayan menyesuaikan strategi operasi.

Kelima, memperkuat perlindungan dan rehabilitasi habitat ikan.

Di sinilah program rumpon dasar atau “rumah ikan” menjadi salah satu strategi adaptasi yang relevan.


Rumpon Dasar: Bukan Menghentikan El Niño, tetapi Memperkuat Ketahanan Ekosistem

Pengadaan rumpon dasar yang terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bulukumba dengan segala keterbatasan anggaran sebenarnya memiliki hubungan penting dengan adaptasi perubahan iklim.

Rumpon dasar tidak akan menghentikan El Niño dan tidak dapat menjamin ikan selalu berkumpul di satu lokasi. Namun, struktur tersebut dapat menciptakan habitat empat dimensi di dasar perairan yang menyediakan tempat berlindung, mencari makan, menempel dan berkembang biaknya berbagai organisme.

Ketika struktur rumpon berada cukup lama di dalam laut, permukaannya dapat dikolonisasi oleh organisme penempel seperti alga, spons, moluska, krustasea dan organisme bentik lainnya. Komunitas tersebut kemudian menjadi bagian dari rantai makanan dan dapat menarik organisme yang lebih besar.

Penelitian mengenai artificial reef menunjukkan bahwa struktur habitat buatan dapat meningkatkan kelimpahan dan keragaman ikan, sementara penyediaan ruang perlindungan bagi organisme mangsa dapat meningkatkan kelimpahan ikan dan CPUE. (ScienceDirect)

Dalam konteks perubahan iklim, fungsi habitat menjadi semakin penting.

Ketika kondisi perairan di luar habitat berubah secara ekstrem—misalnya suhu, arus atau ketersediaan makanan berubah—keberadaan habitat yang kompleks dapat menyediakan microhabitat dan tempat berlindung bagi organisme tertentu.

Konsepnya bukan bahwa rumpon membuat ikan kebal terhadap perubahan iklim, tetapi rumpon dapat memperkuat daya dukung lokal ekosistem sehingga biota memiliki tempat berlindung dan sumber makanan ketika kondisi lingkungan berubah.

Kajian KKP juga menunjukkan bahwa artificial reef dapat meningkatkan tutupan organisme bentik, kelimpahan ikan dan kekayaan jenis, serta dipandang sebagai salah satu pendekatan rehabilitasi habitat dalam menghadapi variabilitas iklim. (Ejournal Balitbang KKP)

Karena itu, pembangunan rumpon dasar sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai “alat untuk mengumpulkan ikan”, tetapi sebagai bagian dari pembangunan habitat perikanan dan strategi adaptasi perubahan iklim.

Tentu, efektivitasnya sangat tergantung pada desain, lokasi, kedalaman, arus, kondisi dasar perairan, bahan yang digunakan, jarak antar unit serta monitoring setelah pemasangan. Penempatan artificial reef yang tepat terbukti sangat menentukan keberhasilannya. (ScienceDirect)

Saat Laut Berubah, Cara Mengelola Perikanan Juga Harus Berubah

Apa yang terjadi di Bulukumba pada musim timur 2026 memberikan sebuah pelajaran penting.

Selama bertahun-tahun nelayan membangun pengetahuan bahwa musim timur berarti waktunya mengejar tongkol dan tembang di laut selatan. Tetapi perubahan iklim menunjukkan bahwa kalender musim tidak selalu menjamin lokasi ikan tetap sama.

Ketika suhu, arus, salinitas dan produktivitas berubah, ikan dapat mengikuti lingkungannya.

Karena itu, masa depan perikanan Bulukumba tidak cukup hanya dengan menambah armada atau meningkatkan kemampuan menangkap ikan. Yang dibutuhkan adalah perikanan yang mampu membaca perubahan laut.

Data satelit, informasi oseanografi, pengetahuan nelayan, pencatatan CPUE, perlindungan habitat dan pembangunan rumpon dasar perlu disatukan menjadi satu sistem pengelolaan.

Sebab bagi nelayan, perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang hanya dibicarakan dalam konferensi atau laporan ilmiah.

Comments

Popular posts from this blog

Ekspor Ikan Perdana ke Arab Saudi Resmi Diluncurkan dari KNMP Bentenge

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Nelayan Resmi Dimulai, Penguatan SDM untuk Mendukung Kampung Nelayan Merah Putih Bentenge

Budidaya Nila Intensif Percontohan Jadi Wadah Edukasi Masyarakat di Pusat Aktivitas Bulukumba